Tampilkan postingan dengan label #30harimenulissuratcinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30harimenulissuratcinta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Februari 2016

Untuk Kamu di Masa Depan

Halo, kamu yang mungkin belum aku kenal. Hari ini aku banyak memikirkanmu. Tentang bagaimana nantinya kita akan bertemu? Bagaimana nantinya kita akan jatuh cinta? Atau kalau kamu adalah salah satu dari temanku sekarang, bagaimana kita akhirnya menyadari kalau kita memang ditakdirkan bersama?

Di manapun kamu sekarang dan apapun yang sedang kamu usahakan, semoga kamu selalu baik-baik saja. Aku di sini sekarang, sedang berjuang menjadi layak untuk kamu pertahankan nantinya, menjadi layak untuk kamu perjuangkan. Aku tidak sempurna, mendekati kata itu pun tidak. Bukan berarti aku tidak berusaha lalu memintamu menerimaku apa adanya. Aku sedang berusaha menjadi layak untukmu, semoga kamu juga sedang berusaha menjadi baik. Dan semoga nantinya kita dipertemukan dalam keadaan baik.

Semoga kamu adalah seseorang yang mau memakan kacang dari kacang atomku.
Semoga kamu adalah seseorang yang mau menampung es dari es tehku.
Semoga kamu adalah seseorang yang mau menghabiskan seharian waktu luangmu hanya untuk bersantai berdua menonton film di rumah.
Semoga kamu adalah seseorang yang mau memakan masakanku yang tidak seberapa lezat ini.
Semoga kamu adalah seseorang yang tidak hentinya mendukung apapun keputusanku.
Semoga kamu adalah seseorang yang memahami ketakutanku akan kehilanganmu.
Semoga kamu adalah seseorang yang menghargai hal kecil apapun yang kuberikan padamu.
Semoga kamu adalah seseorang yang mengerti betapa aku menunggumu, mendoakanmu, dan nantinya jatuh hati padamu dengan sangat.
Semoga kamu adalah seseorang yang tepat. Seseorang yang nantinya membuatku yakin hanya kepadamu dan kamu yakin hanya kepadaku.

Aku tidak mudah jatuh cinta. Saat aku melakukannya, aku melakukannya dengan sangat. Semoga kamu bisa mengerti dan tidak membuat ketakutanku menjadi nyata.
Selamat hari Jumat, sayang. Semoga harimu berkah :)


Tertanda,


Andita.

Sabtu, 06 Februari 2016

Akan Ada Suatu Hari

Akan ada suatu hari di mana aku tidak lagi merasa apapun saat mengingatmu, dan hari itu adalah hari ini.
Ah bukan, sebenernya semenjak berbulan-bulan yang lalu.
Tidak cemas seperti biasanya.
Tidak khawatir seperti biasanya.
Tidak bahagia seperti biasanya.
Tidak sedih seperti biasanya.
Tidak juga rindu seperti biasanya.
Aku tidak merasa apapun.

Dan jangan pernah suatu waktu kamu bilang bahwa kamu rindu aku. 

Karena kalau benar hari itu akan datang, aku hanya akan menertawaimu sampai terbungkuk-bungkuk.

Dari,

Masa lalumu yang keren ini.

Jumat, 05 Februari 2016

Kepada Ferbruari

Kalau aku boleh jujur, aku tidak sepenuhnya menyukaimu.
Mungkin bisa dibilang aku mulai membencimu.
Karena setiap kamu datang, aku pasti akan menantang diriku sendiri untuk menyelesaikan apa yang Pos Cinta tawarkan.
Apa yang ditawarkan tidak selalu terasa manis untukku.
Aku harus menggali kisah-kisah lama demi menyelesaikannya sebulan penuh.
Tidak ada yang menuntutku untuk menyelesaikannya, tapi aku sudah memulainya dan aku tidak mau cuma berhenti di angka 6.
Aku mau membuatnya berhenti di angka 30, yang artinya sebulan penuh, seperti tahun lalu.
Tapi seperti tahun lalu juga tidak mudah untuk menyelesaikannya dan tahun ini terasa lebih berat.
Aku kehabisan bahan.
Ah mungkin aku terlalu memaksakan diri.
Aku harus menantang diriku lebih keras atau harus mulai menyerah saja?



Kamis, 04 Februari 2016

Kamu Tidak Akan Pulang Lagi

"Lamakah aku pergi
hingga tak sadar rambutku makin memutih
Banyak waktuku yang terbuang rugi
 Lamakah aku pergi hingga tak sadar beribu kisah ingin kubagi"
Kamu tidak tau. Ini adalah apa yang aku putar berulang kali waktu kamu sedang jauh dari rumah. Mendaki gunung-gunung tinggi, menjajaki tempat-tempat jauh.

"Berilah ku waktu sebentar lagi
Ku kan pulang
Pulang kerumah
Berilah waktu
Sabar menunggu"

Ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan, sayang. Aku tidak akan mengganggu waktumu. Aku selalu menunggumu pulang. Dengan peluk dan secangkir kopi hangat.

"Doamu slalu untukku
slalu untukku
hingga kini aku tak ragu
Biarkanlah aku sujud di kakimu
lukisanmu selalu indah
seperti doamu sepajang masa tak putus asa"

"Sementara waktu mengubah kita"
Yang aku tidak tau adalah setiap waktu tidak hanya merubahmu, tapi juga merubah kita. Kita yang mulai berbeda keyakinan.
Aku selalu yakin kamu akan pulang, setelah lelahmu menjajaki alam luas.

"Ku kan pulang
Pulang kerumah
Berilah waktu
Sabar menunggu"
Tapi ternyata kamu mencari rumah baru untuk menetap. Aku tidak lebih sebagai rumah singgah untuk menyandarkan lelah.

"Ku kan pulang
Pulang kerumah 
Bawa cerita
Indah dunia"
Dan waktu terus berlalu untukku, dengan atau tanpamu. Untuk itu aku pun pergi. Karena sekarang aku yakin kamu tidak akan pulang.





Aku berhenti menunggumu.



*nb: surat lama yang baru sempat dikirim.
Dialog Dini Hari- Ku Kan Pulang

Rabu, 03 Februari 2016

Untuk yang Pergi

Hai, kamu yang entah sedang ada di mana. Maaf, aku nggak bisa menepati kata-kataku sendiri.
Bagaimana aku bisa nggak menyertakanmu sama sekali di sini kalau nyawa dari tulisanku selama ini adalah kamu. Jangan marah.

Boleh aku cerita sedikit? Akhir-akhir ini aku sepertinya terlalu percaya diri. Merasa sudah bisa nggak mengingatmu sama sekali. Merasa sudah baik-baik saja dengan segala jarak yang sengaja kita buat. Tapi jauh di lubuk hati ada hampa yang selalu diabaikan. Menumpuknya dengan segala kesibukan lain agar kosongnya nggak terasa.

Nggak ada lagi kamu menanyakan kabar. Nggak ada lagi basa-basimu yang basi menanyakan kapan aku punya pacar baru. Nggak ada lagi kamu pendengar di mana aku bisa menceritakan keluhanku tentang apa saja. Nggak ada lagi saran konyol yang dikatakan supaya aku nggak begitu kepikiran sama masalah yang lagi aku alami. Hei, aku lebih kangen sebagai teman tau?! Jangan ketawa kamu di sana!
Nggak ada lagi yang seasik kamu, eh cuma belum nemu lagi, Bahkan kamu mengalahkan temen-temen lamaku. Satu kamu, merangkap mereka semua. Maklum kan kalau aku merasa kehilangan.

Aku kehilangan kamu, sebagai temanku, karena status yang berubah.

Tapi seberapa besar rasa kehilangan itu....
Iya, aku tau kamu mau bilang apa.
Iya, aku bakal nemu lagi seseorang yang baru.
Iya, aku bakal nemu lagi temen yang asik, yang satu dia bisa merangkap kamu dan temen-temen lamaku.
Iya, aku baik-baik aja.

Aku baik-baik aja dengan nggak tau sedikit pun kabar tentang kamu.

Jadi... Tolong terus jaga jarak. Jangan iseng lagi nanyain kabar apalagi nanyain udah punya pacar lagi atau belum sampai semesta ngasih ijin buat kita temenan lagi. Kalau tiba-tiba ada yang ngajak aku nikah, kamu juga kok yang bakal dikabari secepatnya hahaha

Semoga kamu bahagia selalu :)

Dari,
temanmu yang kehilangan.

Selasa, 02 Februari 2016

Hambar

Siapapun,tolong aku.

Aku kehilangan rasaku. Tidak ada percik percik cinta lagi di dalam sini. 
Otakku malas diajak mengarang tulisan cinta. Otakku bahkan terlalu malas untuk mengungkapkan isi hati yang tak melulu soal cinta. 
Aku jadi bingung sendiri mau menulis apa dan untuk siapa. 
Aku sudah bosan dengan bahsan tentang rinduku padamu yang kenyataannya tidak berkurang banyak sejak terakhir kali aku merindumu dengan sangat. 
Aku juga sudah bosan dengan bahasan tentang kenangan manis kita dulu. Karena itu takkan terulang lagi, efek dari kenangan itu bahagianya semu.
Sekarang beginilah, hambar seperti sayur tanpa garam.

Hah tapi ini pasti kabar baik untuk kamu, yang diam-diam mengikuti tulisan-tulisan baru di sini.
Karena kamu pasti juga sudah muak membacanya yang melulu tentang kamu.


Senin, 01 Februari 2016

Halo, Teman!

Halo. Sudah lama tidak ada kabar darimu. Hmm jadi bagaimana aku harus memulainya?

Kamu seperti barisan kata-kata yang mempesona, seperti buku-buku fiksi favoritku.
Tidak bisa berhenti aku membacamu, aku terlanjur mencandumu.
Aku jatuh cinta pada sosokmu yang menertawakan semua hal kecil dariku yang kamu anggap itu aneh, tapi kamu tidak mempermasalahkannya.
Aku jatuh cinta pada caramu berargumen.
Aku jatuh cinta pada cara makanmu yang sangat lahap.
Aku jatuh cinta dengan suaramu yang hobi bercerita apa saja. Mulai dari yang sangat penting sampai yang tidak penting sama sekali.
Aku jatuh cinta dengan caramu menunjukkan kepedulianmu padaku. Ternyata kamu tidak sedingin yang orang orang bicarakan.
Kamu baik dan menyenangkan. Kamu juga selalu ada dan bisa diandalkan.
Aku jatuh cinta padamu karena hal-hal sederhana ini.

Aku jatuh cinta padamu. Apakah kalimat sederhana ini sangat susah untuk kamu pahami?

Dari aku,
teman baikmu.

Minggu, 31 Januari 2016

Surat yang Tidak Spesial

Sudah lama rasanya tidak bercerita.
Tapi sore ini aku sibuk menikmati hujan lalu dengan kurang ajarnya pikiranku melayang ke suatu waktu.

Pikiranku melayang pada waktu di mana kita sedang melakukan perjalanan jauh. Kamu lelap tidur di sampingku dan di luar hujan. Aku sibuk menikmati air hujan yang mengalir di kaca.
Tidak ada yang spesial.
Lalu kamu terbangun dan menggumam,"Hmmm hujan".
Melakukan seperti apa yang aku lakukan, menatap kaca, sebentar saja lalu kamu menggenggam tanganku erat. Kamu tidur lagi setelahnya.
Tidak ada yang spesial.
Aku bahkan tidak sempat berkomentar. Aku hanya bisa tersenyum. Dan aku masih tersenyum saat mengingatnya.

Memang tidak ada yang spesial tentang semua itu. Hal yang membuat spesial adalah karena memori itu tentang kamu. Kamu yang waktu itu adalah orang yang dengan sangat percaya diri menspesialkan dirinya sendiri untukku.

Tidak ada sapaan hangat dan kalimat penutup yang manis di surat ini. Karena tidak banyak lagi hal manis yang bisa aku ingat.

Sabtu, 28 Februari 2015

Bukan Surat dari Raisa

Ini surat terakhir di 30 Hari Menulis Surat Cinta. Dan akhirnya aku putuskan untuk memberanikan diri memberi alamat yang jelas pada surat untukmu kali ini.

Surat ini untukmu, seseorang yang rambutnya sedang cantik-cantiknya.

Mungkin kamu tidak peduli, tapi aku tetap akan memberi tau. Ini adalah surat satu-satunya untukmu yang aku tujukan langsung padamu.

Aku patah hati di waktu yang tepat. Tepat dengan acara 30 Hari Menulis Surat Cinta ini, jadi aku bisa mencurahkan apa yang aku ada pikiran dan hati melalui surat-surat yang secara tidak langsung aku tujukan padamu. Aku juga bisa dengan lancarnya membuat sebuah surat hanya karena teringat satu dari sekian banyak kenangan yang ada, terutama yang menyakitkan.

Mungkin kamu tidak peduli, tapi aku cuma ingin kamu tau. Ada kamu dibalik sebagian besar dari 30 surat yang ada. Aku tidak perlu menunjukkan satu persatu yang mana. Kalau kamu sempat mungkin bisa membacanya sendiri. Tapi sepertinya bukannya tidak sempat, aku masih ingat kamu tidak suka membaca :)

Mungkin setelah surat ini akan sangat jarang ada lagi tulisan tentangmu. Kamu tidak akan merindukan tulisanku, ya aku tau. Aku ingat kamu pernah mengatakan bahwa tulisanku biasa saja dan aku artikan sendiri bahwa kamu tidak menyukai tulisanku. Kamu tau? Karena pernyataanmu itu aku pernah cukup lama berhenti menulis. Tapi, karena mu juga akhirnya aku mulai rutin menulis lagi.

Sebaiknya aku sudahi saja surat ini sebelum surat ini jadi semacam surat pengaduan yang panjang. Aku bukannya ingin memperlihatkan bahwa kamu jahat, bukan. Aku cuma ingin minta maaf sudah lancang menjadikan mata coklat terangmu itu sumber inspirasiku selama ini.

Ya aku tau ini harus disudahi. Cukup. Aku akan mencari sumber inspirasi yang lain.

Terimakasih ya, mas tampan.

nb: Lagi-lagi ini bukan surat dari Raisa atau Taylor Swift, cuma dari aku yang sedang iri dengan cantiknya rambutmu sekarang :)

Jumat, 27 Februari 2015

Selamat Ulang Tahun

Halo, Salsa temanku yang paling konyol.

Sudah lama tidak bertemu, mengobrol, dan tertawa bersamamu. Aku merindukanmu, Sal. Aku rindu guyonanmu yang kadang tidak masuk di akal. Aku rindu tanggapan konyolmu tentang orang-orang yang diam-diam kita amati dari tempat kita nongkrong sambil mengobrol santai. Aku rindu ketika bertemu denganmu untuk mendengar guyonanmu sekaligus menjadi pendingin kepala setelah beberapa jam berkutat dengan latihan soal UN di kelas hanya tinggal keluar kelas dan mendapatimu sedang ngemil di depan kelas sebelah. Kamu selalu menemukan cara agar teman-temanmu tertawa, Sal.

Oiya, selamat ulang tahun, Salsa. 20 tahun ya Sal? Bagaimana perasaanmu menginjak umur ini? Apa kamu grogi? Sebab kata orang-orang mulai umur 20 tahun semua yang kita lakukan sudah semakin serius. Katanya keputusan-keputusan yang kita ambil akan sangat berpengaruh ke depannya. Sebentar lagi aku juga 20 tahun, Sal. Dan aku grogi. Makanya aku bertanya.

Hari ini, di hari ulang tahunmu, aku tidak bisa memberi apapun selain surat ini dan doa-doa baik untukmu. Semoga sehat selalu, umurnya berkah, segala urusan lancar, tidak pernah keteteran membagi waktu antara kuliah dan event, dan selalu bahagia. Perihal jodoh, semoga dipertemukan orang yang tepat di waktu yang tepat, dia yang akan membahagiakanmu sedang menujumu dan kamu menujunya.Siapkan dirimu, pantaskan dirimu, Sal.                                        

Jadi, kapan kita bertemu?

Kamis, 26 Februari 2015

Dari Wanita yang Sedang Patah Hati

Kepada @putrideviURF

Aku menyukai salah satu suratmu yang berjudul "Kepada Wanita yang Sedang Patah Hati" (maaf belum bisa mencantumkan linknya dalam surat ini). Aku merasa surat itu memang ditujukan padaku. Aku menemukan suratmu saat aku sedang patah hati dan saat merasa tidak ada lagi yang mau mendengarkanku.

Aku punya cara sendiri untuk mengobati patah hati ini. Seperti apa yang kamu katakan di suratmu, masing-masing punya caranya sendiri mengahadapi patah hati. But, the others just don't get it. Semua menyalahkan, semua memarahi, lelah untuk mendukung, lelah untuk mendengarkan. Sampai di suatu saat aku merasa, terserah apa yang mereka katakan, karena ini treatment yang aku butuhkan.

Saat ini, aku sudah lebih bisa mengendalikan perasaanku terhadap kenangan masa lalu. Aku sudah di tahap sadar bahwa hidup ini memang harus berlanjut dengan atau tanpanya. Aku sudah di tahap sadar bahwa aku pantas untuk bahagia.

Terimakasih. Suratmu itu membuatku lebih bisa melangkah untuk mengembalikan kebahagianku yang sempat tertutup kesedihan beberapa waktu lalu. Ini bagian yang paling aku suka dari suratmu.....
"Bersabarlah dan terus melangkah karena di setiap gigil kala hujan pasti ada pelangi yang menghangatkan, karena disetiap sakit yg kita rasakan dalam kehidupan selalu ada pembelajaran, beranjaklah dan bercerminlah tatap wajahmu perlahan ukir senyuman termanismu."

Salam kenal, @anditapr

Rabu, 25 Februari 2015

Surat yang Tertunda

Saat kamu tidak tau apa yang bisa kamu katakan akan perasaanmu, kamu akan diam saja kan? Itu mungkin yang akan aku lakukan mulai hari ini dan entah sampai kapan. Semua tentang hal yang seharusnya tidak ada. Dari awal seharusnya tidak pernah ada.
Membicarakan tentang ada atau tidak ada, belum tentu yang tidak terlihat itu berarti tidak ada. Seperti "perasaan" bukan? Tidak terlihat. Tidak berwujud. Tetapi bukan berarti tidak ada. Bahkan tidak ada yang tau pasti dia ada atau tidak ada.

Surat yang tertunda, untukku sendiri.

Yogyakarta, Februari 2014

Selasa, 24 Februari 2015

Bukan Lagi Kamu

Tidak perlu banyak basa-basi ya. Ini untukmu setelah sekian lama.

Perihal melupakanmu memang tidak pernah mudah. Lebih mudah membolak-balik lembar-lembar kenangan daripada mencari kertas baru dan mulai menulis kenangan baru. Tapi seberat dan sesusah apapun, aku tau, ini sudah saatnya.

Aku tidak akan lagi sering pulang. Ada nyaman baru di luar sana yang menungguku untuk menemukannya atau dia yang menemukanku duluan.

Sesekali mungkin aku akan datang. Sekedar menanyakan kabar dan sedikit bertukar cerita. Lalu aku akan berjalan lagi, hingga menetap di nyaman yang baru.

Saat aku datang sesekali nanti, tolong jangan ijinkan aku singgah terlalu lama. Aku sering lupa waktu. Ini tugasmu untuk mengingatkanku, bahwa tempat pulangku bukan lagi kamu.

Dari aku, yang sedang merindukan tatap mata coklat terangmu.

Senin, 23 Februari 2015

Positif Negatif

Kepada penemu smartphone.

Aku bukan orang yang pintar dalam bidang sejarah. Penemu telefon pertama saja aku tidak ingat siapa namanya. Dari masa ke masa, penemuan itu berkembang. Dari telefon rumah, menjadi telefon genggam, dan menjadi smartphone seperti yang kebanyakan kita pegang saat ini.

Aku khususkan surat ini untuk penemu smartphone karena aku hidup di jaman hampir semua orang punya smartphone. Hai penemu smartphone, terimakasih. Terimakasih karena berkat anda semua pekerjaan menjadi mudah. Tugas, surat menyurat, komunikasi dengan orang lain yang sangat jauh sekali pun menjadi mudah dan sangat mungkin dengan adanya smartphone. Perihal membunuh waktu, smartphone juga juara. Orang orang bisa betah berkutat dengan layar smartphone bahkan seharian nonstop. Kenapa bisa? Karena banyak yang bisa dilakukan hanya dengan mengotak atik smartphone masing-masing. Sosmed, email, blogging, game, upgrading, dan masih banyak lagi.

Tapi, tanpa anda sadari sebelumnya, bahwa penemuan anda ini memang mendekatkan yang jauh, juga menjauhkan yang dekat. Awalnya aku tidak percaya pengaruh smartphone sebegitunya. Semakin ke sini, semakin banyak yang menggunakan smartphone dan memang begitu nyatanya. Berkumpul dengan teman-teman tidak lagi seasyik dulu. Ada saja satu, dua, atau bahkan semua memegang dan fokus pada hp masing-masing. Obrolan menjadi kurang berkualitas. Waktu temu yang tidak seberapa juga jadi habis percuma. Yang paling menyedihkan adalah semalam. Aku makan malam bersama keluarga, dan apa yang terjadi? Tidak ada komunikasi atau obrolan panjang lebar di meja makan. Aku sudah mengalah, mematikan hp dan menaruhnya jauh. Tapi, adikku tetap saja tidak menyadari momen langka ini. Satu makan malam bersama yang sangat jarang dihabiskan hanya untuk saling berdiam diri. Sedih. Miris. Thankyouverymuch.

Aku merasa dipermudah hidupnya dengan adanya smartphone. Tapi, kalau sebegitu buruk pengaruhnya, aku memilih kembali ke beberapa tahun lalu dimana handphone hanya bisa sms dan telefon.

Minggu, 22 Februari 2015

Terimakasih Tukang Pos

Untuk Kak Iko a.k.a @gembrit

Tak terasa 24 hari berlalu dalam acara #30HariMenulisSuratCinta ini. Dan selama 24 hari ini kamu sukarela menjadi tukang pos untuk surat-surat seadanya yang aku buat.

Entah kamu membacanya atau tidak, entah pula kamu membaca yang satu ini atau tidak. Surat ini ditujukan padamu.

6 hari lagi dan acara ini berakhir. 6 hari lagi aku akan ikut nangkring di tab mentionmu dan setelah itu tidak lagi. Maka dari itu, sebelum berakhir, aku ingin mengucapkan banyak terimakasih karena sudah menjadi tukang posku selama ini. Kamu berjasa mengantarkan pesan-pesan yang ada di surat-surat itu walau kebanyakan surat yang aku buat tanpa nama dan tidak jelas ditujukan pada siapa.

Aku tidak begitu mengenalmu. Jujur saja, aku baru jadi pengikutmu di linimasa saat aku tau kamu jadi tukang posku untuk tahun ini. Tapi, sama seperti apa yang ingin aku lakukan ke Bosse, kalau ada kesempatan aku ingin mengucapkan terimakasih padamu secara langsung.

Jika kamu membaca surat ini, aku ingin tau pendapatmu tentang surat ini juga tentang surat-surat sebelumnya yang aku buat selama 24 hari ini. Mungkin kamu bisa memberi tanggapan di kolom komentar? Hehehe maafkan aku banyak meminta.

Sekali lagi terimakasih, kak.

Dari @anditapr.

Sabtu, 21 Februari 2015

Seseorang yang Tepat

Untuk Gandes.

Ceritakan lebih banyak tentang hal-hal manis yang dilakukan Grey ke Ana dalam novel dan film yang sedang ingin kamu baca dan tonton itu. Aku bertaruh, pasti mukaku juga akan memerah saat mendengarkanmu lalu membayangkan itu juga dilakukan untukku oleh seseorang yang menyayangiku.

Tapi, kamu harus tau. Setelah patah hati yang menyadarkan aku bahwa bagaimanapun aku mempertahankan, perasaan itu tidak bisa dipaksa. Ketika dia memang tidak ingin bersamaku, ya itu keputusan yang dia ambil dan aku harus menerimanya. Setelah semua ini, yang aku mau hanyalah seseorang yang memang ingin bersamaku. Bukan hanya seseorang yang memberikan selusin bunga mawar hanya untuk membuatku lebih jatuh cinta padanya dan akan meninggalkanku dengan segala alasan keesokan harinya. Aku mau seseorang yang rela jatuh cinta padaku setiap harinya dan aku pun dapat jatuh cinta padanya tanpa takut patah hati, apalagi kehilangan. Aku mau seseorang yang memang membutuhkanku dan aku membutuhkannya.

Seseorang ini, yang entah kapan akan dipertemukan, yang akan mengobati segala patah hati yang pernah aku rasa. Seseorang ini, yang akan membuatku melupakan rasa takut akan jatuh cinta sepenuh hati. Seseorang ini, yang akan membuatku menjadi aku yang lebih baik ketika aku mengenalnya. Seseorang ini, seseorang yang tepat untukku.

Entah bagaimana semesta akan mempertemukan aku dengan orang yang aku cari dan tunggu-tunggu selama ini.
Dan entah bagaimana denganmu, mungkin sedikit banyak juga menginginkan seseorang yang seperti itu. Tapi bukan berarti besoknya kita akan berbagi lelaki ya, hehehe. Maafkan candaan ini.

Suatu saat nanti, dengan segala magisnya, semesta akan mempertemukan kita dengan seseorang yang kita mau dan kita butuhkan untuk hidup kita ke depannya.

Bukan sekadar menunggu saat itu datang yang dapat kita lakukan sekarang. Kita juga harus memantaskan diri untuk unpredictable someone who will complete our each life.

Salam sayang, Andita.

Kamis, 19 Februari 2015

Balasan Untuk Bosse

Hai Bosse, ini surat pertamaku untukmu, sekaligus untuk menjawab One Letter One Day.

Sebelumnya aku berterimakasih kamu sudah menyelenggarakan kegiatan semacam ini. Jujur aku mengikuti acara ini karena aku ingin mencoba konsisten menulis dan mengisi blog. Dan karena adanya acara ini, aku bisa mengungkapkan apa yang susah diungkapkan lewat lisan. Terimakasih.

Gathering nya tanggal 1 Maret di Bandung ya? Aku masih belum tau bisa datang atau tidak. Aku sangat ingin datang dan bisa bertemu langsung dengan orang-orang yang selama ini hanya aku kenal lewat surat mereka, lewat blog mereka, lewat dunia maya. Mungkin di sana aku bisa bertukar

cerita tentang apa yang saling menginspirasi kita sehingga bisa konsisten menulis selama 30 hari.

Tapi, aku baru saja liburan ke ujung Jawa. Duit tabungan menipis. Makanya itu entah bisa datang atau tidak ke gathering pos cinta. Coba nanti malam aku hitung-hitung dulu jumlah tabungan dan biaya yang harus aku keluarkan untuk perjalanan Jogja-Bandung PP. Semoga saja cukup dan aku bisa bertemu denganmu.

Kalau aku datang besok, aku harap bisa menyampaikan ucapan terimakasih ku secara langsung padamu.

Sampai bertemu ya, Bosse.

Salam kenal dari Jogja.
Andita

Rabu, 18 Februari 2015

Laut Tak Punya Rasa

Kepada laut.

Aku merindukanmu dan siang ini akhirnya aku bisa menemuimu. Ada yang mau aku ceritakan. Tentang aku dan semua kenangan tentangnya yang tidak ada habisnya.

Orang-orang di sekitarku sudah tidak mau lagi mendengarkan segala ocehan tentangnya. Kini aku datang menemuimu, bercerita seadanya dan berharap yang ingin aku lupakan juga melebur bersama ombakmu.

Debur ombakmu menggelitik, merayuku untuk berlama-lama mengagumimu. Menemuimu aku mendapat ketenangan. Aku juga merasa lebih dekat dengan Tuhanku. Karena setiap keindahan yang ada pada dirimu, membuatku menyebut namaNya berulang kali.

Hadiahi aku senja yang menawan sore ini ya.

Selasa, 17 Februari 2015

Untuk @zarryhendrik

Kepada sosok yang selalu aku rindukan di linimasa.

Aku hanyalah satu dari pengikut linimasamu dan surat ini terlalu sederhana untuk ditujukan padamu, maafkan. Lewat surat ini aku hanya ingin menyapamu dan sedikit bercerita.

Hai, bang Jep.

Aku mulai mengikutimu di linimasa setelah aku membaca bukumu, "Dear Zarry's". Aku menyukai bukumu. Aku menyukai kata-kata di linimasa mu.

Beberapa kali aku menyapamu melalui 'mention' dan walaupun tidak selalu menanggapi, tapi beberapa kali kamu pernah membalas dan aku sangat senang.

Kata-kata di linimasamu membuat aku jatuh cinta. Kicauanmu sesederhana apapun bisa membuat hariku begitu bersemangat, terimakasih.

Terus berkarya ya, bang. Semoga lancar peluncuran buku barunya. Aku sangat menunggunya. Suatu saat aku ingin datang dan melihatmu membacakan puisi-puisimu secara langsung, semoga saja aku ada kesempatan itu.

Tertanda, @anditapr.

Senin, 16 Februari 2015

Perjalanan Melupakan

Kepada kamu yang pernah jadi teman perjalananku.

Beritahu aku, ke mana aku bisa pergi dan sama sekali tidak mengenang yang telah lalu?

Ini pertama kali aku kembali melakukan perjalanan dengan kereta setelah waktu itu, terakhir, bersamamu. Jadi begini rasanya melakukan perjalanan untuk melupakan yang lalu tapi malah teringat sepanjang perjalanan. Kenangan tentang kamu memang sering kurang ajar. Memenuhi pikiran sampai sesak. 12 jam perjalanan ku entah berapa jam yang aku habiskan untuk mengikuti kemauan pikiran untuk kembali ke memori setahun yang lalu.

Setelah aku tersadar, ternyata waktu itu adalah momen yang menyenangkan ya. Bagaimana tidak, 7 jam bercanda tanpa henti. Kamu tau? Aku sangat lelah waktu itu, kamu memintaku untuk terus bercerita tentang apapun padahal aku sangat mengantuk.

Sayang sekali ya, kita salah mengambil langkah setelah perjalanan itu. Padahal berteman saja sudah semenyenangkan itu. Tidak kok, tidak sesalah itu. Maafkan pemilihan diksi ku tadi.

Eh tapi sekarang kita sudah kembali berteman kan ya.

Jadi kapan kita kemana?