Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Februari 2016

Akan Ada Suatu Hari

Akan ada suatu hari di mana aku tidak lagi merasa apapun saat mengingatmu, dan hari itu adalah hari ini.
Ah bukan, sebenernya semenjak berbulan-bulan yang lalu.
Tidak cemas seperti biasanya.
Tidak khawatir seperti biasanya.
Tidak bahagia seperti biasanya.
Tidak sedih seperti biasanya.
Tidak juga rindu seperti biasanya.
Aku tidak merasa apapun.

Dan jangan pernah suatu waktu kamu bilang bahwa kamu rindu aku. 

Karena kalau benar hari itu akan datang, aku hanya akan menertawaimu sampai terbungkuk-bungkuk.

Dari,

Masa lalumu yang keren ini.

Kamis, 04 Februari 2016

Kamu Tidak Akan Pulang Lagi

"Lamakah aku pergi
hingga tak sadar rambutku makin memutih
Banyak waktuku yang terbuang rugi
 Lamakah aku pergi hingga tak sadar beribu kisah ingin kubagi"
Kamu tidak tau. Ini adalah apa yang aku putar berulang kali waktu kamu sedang jauh dari rumah. Mendaki gunung-gunung tinggi, menjajaki tempat-tempat jauh.

"Berilah ku waktu sebentar lagi
Ku kan pulang
Pulang kerumah
Berilah waktu
Sabar menunggu"

Ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan, sayang. Aku tidak akan mengganggu waktumu. Aku selalu menunggumu pulang. Dengan peluk dan secangkir kopi hangat.

"Doamu slalu untukku
slalu untukku
hingga kini aku tak ragu
Biarkanlah aku sujud di kakimu
lukisanmu selalu indah
seperti doamu sepajang masa tak putus asa"

"Sementara waktu mengubah kita"
Yang aku tidak tau adalah setiap waktu tidak hanya merubahmu, tapi juga merubah kita. Kita yang mulai berbeda keyakinan.
Aku selalu yakin kamu akan pulang, setelah lelahmu menjajaki alam luas.

"Ku kan pulang
Pulang kerumah
Berilah waktu
Sabar menunggu"
Tapi ternyata kamu mencari rumah baru untuk menetap. Aku tidak lebih sebagai rumah singgah untuk menyandarkan lelah.

"Ku kan pulang
Pulang kerumah 
Bawa cerita
Indah dunia"
Dan waktu terus berlalu untukku, dengan atau tanpamu. Untuk itu aku pun pergi. Karena sekarang aku yakin kamu tidak akan pulang.





Aku berhenti menunggumu.



*nb: surat lama yang baru sempat dikirim.
Dialog Dini Hari- Ku Kan Pulang

Senin, 01 Februari 2016

Halo, Teman!

Halo. Sudah lama tidak ada kabar darimu. Hmm jadi bagaimana aku harus memulainya?

Kamu seperti barisan kata-kata yang mempesona, seperti buku-buku fiksi favoritku.
Tidak bisa berhenti aku membacamu, aku terlanjur mencandumu.
Aku jatuh cinta pada sosokmu yang menertawakan semua hal kecil dariku yang kamu anggap itu aneh, tapi kamu tidak mempermasalahkannya.
Aku jatuh cinta pada caramu berargumen.
Aku jatuh cinta pada cara makanmu yang sangat lahap.
Aku jatuh cinta dengan suaramu yang hobi bercerita apa saja. Mulai dari yang sangat penting sampai yang tidak penting sama sekali.
Aku jatuh cinta dengan caramu menunjukkan kepedulianmu padaku. Ternyata kamu tidak sedingin yang orang orang bicarakan.
Kamu baik dan menyenangkan. Kamu juga selalu ada dan bisa diandalkan.
Aku jatuh cinta padamu karena hal-hal sederhana ini.

Aku jatuh cinta padamu. Apakah kalimat sederhana ini sangat susah untuk kamu pahami?

Dari aku,
teman baikmu.

Minggu, 31 Januari 2016

Surat yang Tidak Spesial

Sudah lama rasanya tidak bercerita.
Tapi sore ini aku sibuk menikmati hujan lalu dengan kurang ajarnya pikiranku melayang ke suatu waktu.

Pikiranku melayang pada waktu di mana kita sedang melakukan perjalanan jauh. Kamu lelap tidur di sampingku dan di luar hujan. Aku sibuk menikmati air hujan yang mengalir di kaca.
Tidak ada yang spesial.
Lalu kamu terbangun dan menggumam,"Hmmm hujan".
Melakukan seperti apa yang aku lakukan, menatap kaca, sebentar saja lalu kamu menggenggam tanganku erat. Kamu tidur lagi setelahnya.
Tidak ada yang spesial.
Aku bahkan tidak sempat berkomentar. Aku hanya bisa tersenyum. Dan aku masih tersenyum saat mengingatnya.

Memang tidak ada yang spesial tentang semua itu. Hal yang membuat spesial adalah karena memori itu tentang kamu. Kamu yang waktu itu adalah orang yang dengan sangat percaya diri menspesialkan dirinya sendiri untukku.

Tidak ada sapaan hangat dan kalimat penutup yang manis di surat ini. Karena tidak banyak lagi hal manis yang bisa aku ingat.