Jumat, 06 Juni 2014

Pengakuan yang Lain

Aku sudah memenjarakan bayangmu dalam tatapku dan melekatkanmu di hati tanpa izinmu. Membiarkan sebuah rasa tumbuh melebihi batas kagum, menembus batas sayang, mencapai batas cinta.
Diiringi rintik gerimis manis di sore itu, genggaman tanganmu membuat rasa di hati meluap tidak tertahankan. Tatapanmu penuh cinta. Semesta memberi kesempatan kepadaku untuk tidak hanya mengagumimu dan mencintaimu dalam diam. Semua rasa tersampaikan dan lebih baik dari itu, semua rasa itu berbalas.
Warna-warni hidup kembali mengisi lembar-lembar kosong selanjutnya. Ceritanya penuh cinta, harapan, dan doa. Bukan hanya aku di dalam cerita itu, kini juga ada kamu.

Kamis, 05 Juni 2014

Pengejar Matahari

Sunset dan sunrise selalu indah setiap hari. Tapi entah kenapa sekarang mereka terasa lebih indah. Mungkin karena keindahannya dibagi, tidak hanya dinikmati sendiri.
Ini tentang partner 'mengejar matahari'. Dia yang lebih menyukai sunrise daripada sunset tapi juga nggak pernah keberatan diajak mengejar sunset. Walau rencana untuk menikmati sunset nggak hanya dari teras rumah hanya berakhir wacana. Tapi dia nggak pernah ingkar janji.
Dan ini sedikit tentang dia dan harapan lewat kutipan ini "Someday you will find the one who will watch every sunrise
with you until the sunset of your life".
Kapan kita kemana?

Rabu, 04 Juni 2014

Ini Bahagiaku

"hei ayo! Kamu harus lihat ke luar. Udah mulai jingga"
Lalu kamu keluar dari tenda, berteriak-teriak kagum dengan pemandangan indah di depan mata. Sunset yang selama ini kita kejar dan selalu tertutup awan. Sekarang aku bisa membayar utangku. Ini sunset yang kamu impikan dan aku berhasil membuatmu mengagumi keindahannya dari ketinggian sekitar 3000 mdpl.
Aku keluar menyusulmu yang masih mengagumi keindahan senja. Ini bahagiaku, melihatmu bahagia. Kamu masih bersemangat foto sana foto sini. Mengabadikan moment indah ini. Hanya ada aku dan kamu, belum ada rombongan lain yang sampai.
"Sini duduk. Udah mau selesai tuh", kataku.
Aku mendekapmu sambil menikmati sisa-sisa semburat jingga sore ini.
"Makasih banyaak ya. Keren banget sunsetnya", katamu masih dengan senyum lebar dan mata yang berbinar-binar menghiasi muka mungilmu.
"iyaa. Kamu suka?"
"suka banget! Aku sayang kamu", jawabmu lalu iseng mencubit pipiku.
Semburat jingga mulai hilang, digantikan kehadiran bintang-bintang yang mulai terlihat. Langit mulai gelap, malam mulai datang.

Ini bahagiaku, melihatmu bahagia.

Minggu, 06 April 2014

Terlalu Cepat

Kamu pergi terlalu cepat.
Kamu menetap terlalu sebentar.
Di saat yang kosong mulai terisi. Di saat yang berantakan mulai rapi. Di saat yang dingin mulai hangat. Di saat yang sepi mulai ramai. Di saat yang sedih mulai bahagia. Di saat cinta sudah bukan di batas kagum.
Kamu berhasil membuatku berani jatuh cinta lagi. Mengajarkan bahwa rasa itu hadir bersama resiko selain bersamamu dan harapan. Tapi kamu tidak mengajarkan bahwa aku harus siap melepasmu secepat ini.
Tiba-tiba yang mulai kuat kembali rapuh. Yang mulai tersenyum kembali murung. Yang mulai bercerita kembali diam. Menatap langkahmu dengan harapan yang tidak pergi bersamamu. Tidak mampu mengutarakan dan memintamu untuk tetap tinggal.
Tiba-tiba semua jadi tidak bisa diungkapkan.
Mungkin ini akibat lupa bahwa yang memutuskan untuk menetap, juga pasti akan pergi dan kita tidak pernah tau kapan dia akan pergi.

Kamis, 27 Maret 2014

Sedikit tentang Kita

Tanpa kamu, sepinya malam seperti memeluk erat. Enggan pergi. Lalu memohon pada fajar untuk tidak segera datang agar lebih lama kurasa sepi sampai akhirnya entah kapan bertemu denganmu lagi. Semakin dirasakan, semakin erat ia memeluk bersama rindu.

Bersamamu, sepinya malam hanya bisa menatap iri pada kita. Lalu memohon dengan sedikit merajuk pada fajar agar cepat datang. Agar tidak perlu lebih lama dia menatap kita yang berbagi cerita sepanjang malam seperti tidak pernah kehabisan topik.

Aku dan kamu, sebut saja kita adalah dua orang yang sedang jatuh cinta. Yang selalu mempunyai cara dan pilihan mau mengakhiri hari seperti apa dan memulainya seperti apa lagi. Yang saling bertukar cerita, mengenal dunia satu sama lain. Yang bersedia saling jatuh cinta berulang kali.

Ini bukan hanya tentang saling memiliki, menyayangi, dan mencintai. Ini juga tentang saling membutuhkan. Dan aku memahaminya setelah bersamamu.

Senin, 24 Februari 2014

Aku Merindumu

Aku tidak tau lagi harus bagaimana mengatakan rindu padanya. Akhirnya aku mencoba bercerita pada langit mendung sore ini. Aku bilang bahwa aku sedang merindukannya. Aku tidak mengerti apakah rasa rindu itu akan sampai padanya atau tidak. Aku hanya bercerita. Itu sedikit melegakan daripada memendamnya sendiri. Setelah aku bercerita, langit mendungnya berubah sedikit lebih cerah. Mungkin dia berusaha menghiburku yang cemberut terus memikirkannya. Karena detik demi detik terasa begitu membosankan saat aku sendirian. Dan saat sendiri itu, pikiranku tak hentinya mengeja namanya. Juga aku tak berhenti berusaha membunuh rasa rindu yang semua percuma adanya.

Jika nanti hujan turun di manapun kamu sedang berada, itu cara langit menyampaikan rinduku padamu, sayang.

Senin, 10 Februari 2014

Kata Hati

Semua rasa ini pasti hanya sementara dan hanya aku saja yang merasa. Semua pencitraan darimu ya hanya sebatas pencitraan. Jadi sebaiknya aku jangan terlalu lama bahagia. Jangan terlalu bahagia menikmatinya. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang spesial. Semuanya biasa saja. Aku saja yang melebih-lebihkan. Akan ada saatnya semua kesenangan ini mulai berkurang lalu berakhir begitu saja.

Setidaknya itulah yang selalu dikatakan hatiku waktu itu.