Senin, 09 Februari 2015

Permohonan Maaf yang Terlambat

Hai (lagi-lagi) kamu.

Tepat di tanggal ini setahun yang lalu kamu baru saja memenangkan sebuah pertandingan. Segininya aku memperhatikanmu sampai aku masih ingat juga apa yang kamu janjikan beberapa hari sebelumnya.

Setiap malam, seminggu terakhir menjelang pertandingan, kamu selalu mengeluh. Kamu mulai lelah dan mulai gelisah. Dan entah bagaimana awalnya, setiap malam sebagai temanmu aku bersedia mendengarkan, memberi dukungan, dan mengembalikan semangatmu lagi. Aku masih ingat bagaimana kerasnya kamu latihan, menjaga pola makan, dan menghindari segala yang enak tapi dilarang menjelang pertandingan.

Kamu tidak minta dijanjikan ini itu kalau nantinya kamu memenangkan pertandingan. Kamu hanya meminta dukungan dan doa, tidak kurang dan tidak lebih. Kamu meminta aku untuk tidak menonton pertandinganmu. Kamu hanya memperbolehkan aku datang di final. Tiga kali. Aku masih ingat aku memintamu untuk bermain tiga kali. Dan kamu berhasil melakukannya. Bermain tiga kali dan menang.

Ini yang kamu tidak pernah tau, walau di final aku tidak datang, setiap sujudku aku menyebut namamu. Dan ini juga yang tidak pernah kamu tau, aku menyesal tidak datang siang itu. Walau kamu tidak mengatakannya, aku tau kamu kecewa. Malam itu, setelah kemenanganmu, kamu menepati janjimu, mengajakku makan siomay, sederhana sekali.

Aku sangat menyesal tidak datang siang itu. Karena sekarang, kamu tidak lagi mau mengikuti pertandingan. Siang itu seperti kesempatan pertama dan terakhir aku bisa melihatmu dalam sebuah pertandingan. Kesempatan yang aku sia-siakan. Bahkan rasa bersalah karena tidak menepati janjiku untuk datang siang itu masih selalu terbayang sampai sekarang walau kamu sudah melupakan bahwa kamu pernah memintaku untuk berada di dekatmu.

Ini yang mau aku sampaikan lewat surat ini. Maafkan aku yang tidak menepati janjiku seperti kamu menepati janjimu. Maaf aku menyakiti hatimu seawal itu.

Minggu, 08 Februari 2015

Lebih Dekat

Hai, ini suratku untuk kamu yang tidak melulu tentang yang lalu.

Aku tidak yakin apakah kamu ada waktu untuk membacanya. Aku tau kamu sangat sibuk. Aku juga tidak berharap kamu akan membacanya. Karena menulis tidak melulu tentang dibaca. Kadang diabaikan adalah cara terbaik agar tulisan ini tetap pada tempatnya.

Aku terlalu berani menulis surat ini ketika aku masih dalam perjalananku menemukan nyaman yang baru. Sekilas aku menengok ke rumahmu. Terlihat damai dan mengundang untuk disinggahi. Aku ingin singgah. Sebentar saja. Itupun kalau diperbolehkan.

Aku ingin mengenalmu lebih dekat. Tapi aku bingung bagaimana memulainya.

Tapi aku juga sedang hancur. Berjalan tidak tentu arah sambil memperbaiki hati. Aku butuh disayangi selagi aku memperbaiki hati. Apa kamu bersedia menerima aku yang sedang belajar berdamai dengan masa lalu?

Sabtu, 07 Februari 2015

Nostalgia Putih Abu

Untuk kawan-kawan dari masa putih abu.

Sore ini mendung menghiasi kota. Sejuk sekali rasanya setelah beberapa siang terik luar biasa. Ini sore yang biasa, seperti sore sore yang lain. Tapi ada rasa tidak biasa, bahagia yang sederhana sesederhana berkumpul dengan kawan-kawan lama.

Diramaikan gitar akustik dan kartu remi, sore ini bergerak santai. Betapa aku merindukan suasana seperti ini.

Semenjak kelulusan, berkumpul dengan kalian tidak semudah sebelumnya. Yang biasanya hanya tinggal berkumpul setiap istirahat, sekarang mau kumpul harus nyatuin jadwal kosong.

Mumpung masih liburan ya puas-puasin kumpul bareng kalian. Sebelum susah lagi buat kumpul waktu udah pada sibuk kuliah lagi.

Lalu,  kapan kita kemana? :)

Jumat, 06 Februari 2015

Sesederhana Menjadi Pendengarmu

Kembali lagi, ini surat ke sekian untukmu.

Bahagiaku kadang sesederhana melihatmu terlelap di hadapanku seusai kamu bercerita tentang masalah-masalah apa yang sedang kamu hadapi.

Maafkan aku. Aku sering cuma bisa menjadi pendengarmu, menjadi teman bicaramu. Sering aku tidak bisa membantu banyak. Aku berharap adanya aku untuk mendengarkanmu sudah cukup mengurangi beban pikiranmu.

Apa aku sudah pernah menyampaikannya padamu? Melihat mata coklat terangmu itu dikepung kesedihan aku tidak sanggup. Karenanya aku akan resah dan susah payah mencari cara agar mendung di matamu itu menghilang, lalu kembali digantikan dengan cerah kebahagiaan.

Kamu bisa kapan saja menceritakan apa saja padaku, tanpa melihat apa yang pernah terjadi di masa lalu antara kita berdua. Berawal dari teman, kita akan kembali berteman.

Aku sudah mulai bisa berdamai dengan kenangan.

Kamis, 05 Februari 2015

Surat Pertamaku Untukmu

Kepada kamu, seseorang yang aku kenal belum lama.

Sudah masuk hari ketujuh dan membuat surat untukmu masih hanya ada di angan-angan. Aku terlalu takut untuk memulai lebih dulu. Bahkan untuk menulis surat yang mungkin tidak akan kamu baca ini saja aku belum berani. Iya, aku sepengecut itu.

Aku bingung mau mengatakan apa dalam suratku untukmu. Menanyakan kabarmu? Ah terlalu basa-basi kurasa. Bercerita tentang keseharianku? Ah untuk apa. Kita bahkan belum pernah saling bertukar cerita tentang keseharian masing-masing.

Karena kebingungan itulah surat untukmu tidak pernah selesai.

Tetapi, di akhir surat ini aku baru sadar. Inilah surat pertamaku untukmu.

Dari seseorang yang diam-diam memperhatikanmu.

Rabu, 04 Februari 2015

Pasangan di Meja Sebelah

Kepada pasangan di meja sebelah.

Hai. Kita tidak saling mengenal. Bahkan kita baru berjumpa siang ini di sebuah warung makan. Kita sempat mengobrol basa-basi menanyakan minuman apa yang enak untuk siang ini.

Maafkan... Sambil makan tadi aku memperhatikan kalian diam-diam. Dan diam-diam juga aku langsung mengagumi kalian. Kalian pasangan yang tidak lagi muda, tapi masih terlihat mata kalian penuh cinta. Apa resepnya untuk hubungan tahan lama seperti kalian?

Kalian pasti sudah melewati banyak pertengkaran, beberapa kali fase bosan, tetapi tetap bersedia kembali jatuh cinta satu sama lain. Kalian terlihat saling menjaga, saling menyayangi, saling mencintai. Kalian membuat aku kembali percaya bahwa ada cinta yang bertahan lama. Bahkan sampai sudah muncul kerutan di wajah masing-masing, rambut sudah tidak lagi hitam, tapi kalian masih mencintai dengan apa adanya.

Coba saja kita punya waktu lebih banyak dan bisa mengobrol panjang. Aku ingin mendengar bagaimana kisah tentang cinta kalian sambil mengobati hati agar siap jatuh cinta lagi.

Semoga hubungan kalian selalu baik-baik saja. Semoga selalu banyak diberikan kebahagiaan.

Tertanda,
remaja di meja sebelah kalian.

Selasa, 03 Februari 2015

Ke Sekian tentang Patah Hati

Hei, hati aku.
                                               
Apa kabar kamu? Sepertinya semakin membaik dari hari ke hari. Aku tau seberat apa kamu berusaha mengobati sakitmu beberapa bulan terakhir ini.

Jangan lagi ditangisi, perihal sakit hati ini akan semakin menguatkanmu. Jangan lagi disesali, memang biasa dalam perjalanan cinta, apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Nikmati saja dulu sakitnya, sampai sembuh dengan sendirinya. Lalu perpindahan akan jadi semudah saat jatuh cinta.

Banyak kenangan, baik juga buruk. Jaga saja yang baik, yang menyenangkan, yang membahagiakan. Lupakan perlahan yang menyakitkan, yang menyedihkan. Semoga dengan begitu bisa membantu persiapan berpindahmu.

Memang tidak ada yang bisa menjanjikan masa depan. Tapi, kamu perlu percaya akan ada suatu saat nanti yang tidak akan membiarkanmu hancur seperti ini lagi saat mencintainya.

Terimakasih telah mau mencoba untuk kembali jatuh cinta dan mencintai walau akhirnya tidak membahagiakan. Tidak masalah, semua ini pelajaran yang indah.