Selasa, 17 Februari 2015

Untuk @zarryhendrik

Kepada sosok yang selalu aku rindukan di linimasa.

Aku hanyalah satu dari pengikut linimasamu dan surat ini terlalu sederhana untuk ditujukan padamu, maafkan. Lewat surat ini aku hanya ingin menyapamu dan sedikit bercerita.

Hai, bang Jep.

Aku mulai mengikutimu di linimasa setelah aku membaca bukumu, "Dear Zarry's". Aku menyukai bukumu. Aku menyukai kata-kata di linimasa mu.

Beberapa kali aku menyapamu melalui 'mention' dan walaupun tidak selalu menanggapi, tapi beberapa kali kamu pernah membalas dan aku sangat senang.

Kata-kata di linimasamu membuat aku jatuh cinta. Kicauanmu sesederhana apapun bisa membuat hariku begitu bersemangat, terimakasih.

Terus berkarya ya, bang. Semoga lancar peluncuran buku barunya. Aku sangat menunggunya. Suatu saat aku ingin datang dan melihatmu membacakan puisi-puisimu secara langsung, semoga saja aku ada kesempatan itu.

Tertanda, @anditapr.

Senin, 16 Februari 2015

Perjalanan Melupakan

Kepada kamu yang pernah jadi teman perjalananku.

Beritahu aku, ke mana aku bisa pergi dan sama sekali tidak mengenang yang telah lalu?

Ini pertama kali aku kembali melakukan perjalanan dengan kereta setelah waktu itu, terakhir, bersamamu. Jadi begini rasanya melakukan perjalanan untuk melupakan yang lalu tapi malah teringat sepanjang perjalanan. Kenangan tentang kamu memang sering kurang ajar. Memenuhi pikiran sampai sesak. 12 jam perjalanan ku entah berapa jam yang aku habiskan untuk mengikuti kemauan pikiran untuk kembali ke memori setahun yang lalu.

Setelah aku tersadar, ternyata waktu itu adalah momen yang menyenangkan ya. Bagaimana tidak, 7 jam bercanda tanpa henti. Kamu tau? Aku sangat lelah waktu itu, kamu memintaku untuk terus bercerita tentang apapun padahal aku sangat mengantuk.

Sayang sekali ya, kita salah mengambil langkah setelah perjalanan itu. Padahal berteman saja sudah semenyenangkan itu. Tidak kok, tidak sesalah itu. Maafkan pemilihan diksi ku tadi.

Eh tapi sekarang kita sudah kembali berteman kan ya.

Jadi kapan kita kemana?

Sabtu, 14 Februari 2015

Love You, Love.

Untuk seseorang yang pernah aku cintai dengan terlalu.

Bagiku ini bukan tanggal yang spesial. Hanya saja di hari ini tema suratnya tentang mengutarakan cinta. Ah kamu pasti tidak paham walau aku jelaskan berulang-ulang. Jadi terima saja, ini surat yang entah ke berapa untuk kamu. Surat yang aku harap tidak pernah dibaca olehmu atau bahagia barumu. Aku menulis ini hanya untuk mengikuti peraturan menulis surat cinta hari ini.

Hai. Bersama surat ini aku kirimkan rindu yang tidak ingin aku utarakan langsung padamu. Bersama surat ini, aku hanya ingin bilang bahwa aku mencintaimu, dulu. Mungkin sekarang masih tersisa sedikit, tapi tenang saja, aku akan membuang rasa ini jauh-jauh agar kita bisa berteman tanpa rasa apapun yang terbawa dari masa lalu.

Apa lagi ya yang perlu aku sampaikan? Rasanya sudah cukup. Semua sepertinya sudah tertulis di surat-surat untukmu sebelumnya. Maafkan aku masih sering mengalamatkan suratku untukmu. Tidak bermaksud apa-apa, hanya benar adanya kenangan tentang kamu memang sedang sering menginspirasi aku.

nb: kalau kamu membaca ini, tolong jangan ditertawakan.

Salam rindu,
Dari masa lalu.

Jumat, 13 Februari 2015

Doaku Malam Itu

Untuk Pengatur Segala Rasa.
Di suatu malam yang jauh dari rumah, aku bersimpuh di sajadah tua yang digelar di sekotak tempat khusus untuk menyembahMu. Untuk pertama kali aku panjatkan doa meminta tolong padaMu untuk menjaganya. Tentunya setelah aku mendoakan keluargaku. Waktu itu entah bagaimana ceritanya ada setitik air mata keluar pelan. Mungkin aku hanya lelah, pikirku. Aku tetap melanjutkan doaku tentangnya dan semakin banyak saja yang keluar. Apa maksudnya ini? Apa sekarang dia jadi bagian penting yang aku takut tidak bisa menjaganya sendirian tanpa bantuanMu? Apa sekarang bahagia dan sedihnya juga bagian yang selalu aku pikirkan? Maaf Tuhan, aku tidak bermaksud membuatmu cemburu. Aku tidak mau menyayanginya melebihi aku menyayangiMu dan keluargaku. Untuk itu, selain aku meminta tolong padaMu untuk menjaganya, aku minta agar rasa yang mungkin diberi kesempatan untuk tumbuh ini tidak melebihi porsinya.

Malang, Februari 2014.

Kamis, 12 Februari 2015

Hujan Sore Ini

Kepada hujan.

Aku tau seharusnya aku tidak merutukmu. Tapi maaf, benar adanya karenamu aku gagal kemana-mana. Banyak yang harusnya sudah aku selesaikan, tapi semua berantakan karenamu.

Hujan, maaf sekali lagi aku merutukmu. Karenamu sore ini kenangan tentangnya kembali datang. Memenuhi otak yang sedang kosong dan diam di sudut-sudut pikiran. Menetap. Enggan diusir pergi. Tiba-tiba aku teringat, terakhir kali mengelus kepalanya hingga dia terlelap. Terakhir kali menatapnya saat dia sedang berkelana di alam mimpi, mendatangi bahagia barunya. Demi apapun aku rela menunggui dia bangun kala itu. Hanya untuk memberi senyum yang akan pertama dia lihat ketika dia kembali ke dunia nyata. Tapi ternyata lagi-lagi aku ditampar kenyataan bahwa bukan lagi senyumku yang dia ingin lihat pertama saat dia membuka mata. Bukan lagi.

Hujan, maafkan aku. Maafkan aku karena kamu harus membaca keluh kesahku tentangmu dan tentang dia sore ini.

Rabu, 11 Februari 2015

Cintai Aku dengan Sebentar

Mulai memasuki minggu kedua 30 Hari Menulis Surat Cinta. Ini yang ke sekian, untuk kamu. Kali ini tidak perlu panjang-panjang.

Sudah tiba di titik jenuhku dalam menulis dan aku merasa butuh kamu atau setidaknya kenangan tentang kamu untuk aku nikmati sendiri momen-momen yang tidak akan terulang itu.

Aku teringat akan kutipan dari bang Zarry Hendrik.
"Cintailah aku dengan sebentar. Ku akan puisikanmu puluhan lembar. Cintailah aku sehari saja. Ku akan mengenangmu di setiap senja."

Kamu, cintai aku dengan sebentar dan puluhan tulisan tentangmu tercipta.
Kamu, cintai aku dengan sebentar dan memberi nyawa hampir di semua tulisanku.
Kamu, cintai aku dengan sebentar dan tidak ada habisnya kenangan tentang kita.
Kamu, cintai aku dengan sebentar lalu pergi tinggalkan luka.

Selasa, 10 Februari 2015

Putih Kecilku

Kalian memang belum lama ada di kehidupanku. Belum ada satu semester aku merawat kalian. Tetapi, rasa sayang ini sudah ada begitu banyaknya untuk kalian.

Pertama memiliki kalian, hanya ada 2. Menunggu dan terus menunggu, jumlah kalian bertambah 4. Bahkan aku sampai menambahkan rumah baru untuk anak-anak kalian. Mereka sangat menggemaskan. Aku sangat bahagia memiliki mereka. Sampai pada akhirnya, kalian bertambah 6 lagi. Dengan sangat terpaksa aku harus mencari orang lain yang bisa merawat mereka.

Anak-anak kalian yang baru.... Entahlah. Aku tidak tau apa yang terjadi dengan mereka. Satu persatu mereka berkurang, mati. Sampai sekarang tersisa 2.

Sedih rasanya melihat jumlah anak-anak kalian berkurang setiap minggunya. Di tengah kesedihan itu, kalian bertambah 7 lagi. Ada kebahagiaan baru lagi.

7 anak-anak kalian itu sekarang sudah mulai bertambah besar. Mereka sudah bertambah lincah, sama seperti kalian. Baru mau aku ajarkan supaya anak-anak kalian mandiri, tetapi ternyata mereka masih menyusui.

Di tengah kebahagiaan karena memiliki kalian sebanyak ini, semalam aku melihat salah satu dari kalian terluka. Hati ini ikut terluka. Tengah malam aku rela pergi ke supermarket, membeli obat merah. Pelan-pelan aku coba obati kaki yang terluka.

Segininya aku mencintai kalian. Semoga kamu kuat bertahan hidup tanpa 1 kaki demi anak-anak kalian yang masih menyusui. Aku akan lebih menjaga kalian. Aku tidak mau kehilangan satu per satu dari kalian lagi.

Salam sayang dari aku untuk kalian, hamster-hamster aku.