Selasa, 07 April 2015

Dua Puluh (Untukku)

Tahun ini, alhamdulillah masih bisa menulis postingan ini yang berarti masih diberi umur oleh Tuhan yang Maha Asik.
Tahun ini, tidak ada voice message di pagi hari yang bikin terharu. Mungkin lupa. Atau teman-teman mungkin ingat, hanya saja nggak ngeh hari ini tanggal 7.
Tahun ini, biasa saja. Seperti yang lalu-lalu, semua biasa saja. Bahkan mama cuma sms dan papa lupa. Biasa saja.
Tahun ini, yang ke-20. Semakin tua, semakin sadar. Aku bukan siapa-siapa tanpa mereka, orang-orang yang aku sayangi.

Untuk semua yang ingat, yang mengucapkan, juga mendoakan, terimakasih banyak. Semoga doa baik kembali ke kalian juga. Maaf mengecawakan beberapa orang di hari ini. Semoga lebih bisa berbenah diri setelah membaca koreksi dari kalian.

Untuk yang aku sayang dan juga aku rindukan; orang tua, adek, teman-teman lama. Terimakasih segala ucapan dan doa yang diucapkan dari jauh. Aku bisa bersedih karena merindukan kalian dengan sangat malam ini.

Resolusi umur baru, mungkin harus benar-benar diniati. Sudah bukan lagi waktunya main-main.

Terimakasih yaAllah, atas kesempatan yang masih diberikan hingga hari ini.

Senin, 30 Maret 2015

Pelarian

Seringkali menulis menjadi pelarianku untuk hal-hal yang tidak dapat dikatakan. Seperti bagaimana aku mengingatnya sebelum lelapku, memaksanya hadir ke mimpiku, lalu bangun dengan patah hati. Seperti bagaimana aku merindukannya dengan sangat. Rindu yang tidak lagi mudah untuk diungkapkan. Rindu ini tidak lagi dapat diobati. Karena obat dari segala rindu ini adalah peluknya. Dan peluknya sudah milik yang lain.

Aku menulis karena ketika aku tidak lagi didengar, setidaknya aku bisa dibaca.

Senin, 23 Maret 2015

Jika Kamu Ingin Tau

Aku bisa mengobrolkan apa saja denganmu dan kamu akan menanggapi dengan caramu yang jarang serius itu. Dan kegiatan ini yang aku rindukan. Di mana mengobrol denganmu membuatku lega. Aku bisa menceritakan apapun dan aku bisa mendengar cerita apapun juga tentangmu. Kamu sering menceritakan impian-impian besarmu yang gila dan aku suka menyimaknya, menanggapi seperlunya, dan kita tertawa bersama setelah menyadari betapa konyolnya idemu itu.

Kita tidak sama, kita tidak juga saling melengkapi.
Tapi tetap mengobrol dan tertawa bersamamu adalah favoritku.
Dan untuk itu aku rela menghabiskan waktuku bahkan seharian.

Minggu, 01 Maret 2015

Awal Bulan yang Pekat

Pagi ini, aku bangun tidur dan merindukan seseorang. Rasanya tidak menyenangkan sama sekali. Dan yang aku bisa lakukan adalah tidur lagi. Ya dan bangun lagi masih dengan rindu yang pekat terasa.

Sebaiknya aku menggunakan sisa hari ini untuk menyenangkan hati.

Sabtu, 28 Februari 2015

Bukan Surat dari Raisa

Ini surat terakhir di 30 Hari Menulis Surat Cinta. Dan akhirnya aku putuskan untuk memberanikan diri memberi alamat yang jelas pada surat untukmu kali ini.

Surat ini untukmu, seseorang yang rambutnya sedang cantik-cantiknya.

Mungkin kamu tidak peduli, tapi aku tetap akan memberi tau. Ini adalah surat satu-satunya untukmu yang aku tujukan langsung padamu.

Aku patah hati di waktu yang tepat. Tepat dengan acara 30 Hari Menulis Surat Cinta ini, jadi aku bisa mencurahkan apa yang aku ada pikiran dan hati melalui surat-surat yang secara tidak langsung aku tujukan padamu. Aku juga bisa dengan lancarnya membuat sebuah surat hanya karena teringat satu dari sekian banyak kenangan yang ada, terutama yang menyakitkan.

Mungkin kamu tidak peduli, tapi aku cuma ingin kamu tau. Ada kamu dibalik sebagian besar dari 30 surat yang ada. Aku tidak perlu menunjukkan satu persatu yang mana. Kalau kamu sempat mungkin bisa membacanya sendiri. Tapi sepertinya bukannya tidak sempat, aku masih ingat kamu tidak suka membaca :)

Mungkin setelah surat ini akan sangat jarang ada lagi tulisan tentangmu. Kamu tidak akan merindukan tulisanku, ya aku tau. Aku ingat kamu pernah mengatakan bahwa tulisanku biasa saja dan aku artikan sendiri bahwa kamu tidak menyukai tulisanku. Kamu tau? Karena pernyataanmu itu aku pernah cukup lama berhenti menulis. Tapi, karena mu juga akhirnya aku mulai rutin menulis lagi.

Sebaiknya aku sudahi saja surat ini sebelum surat ini jadi semacam surat pengaduan yang panjang. Aku bukannya ingin memperlihatkan bahwa kamu jahat, bukan. Aku cuma ingin minta maaf sudah lancang menjadikan mata coklat terangmu itu sumber inspirasiku selama ini.

Ya aku tau ini harus disudahi. Cukup. Aku akan mencari sumber inspirasi yang lain.

Terimakasih ya, mas tampan.

nb: Lagi-lagi ini bukan surat dari Raisa atau Taylor Swift, cuma dari aku yang sedang iri dengan cantiknya rambutmu sekarang :)

Jumat, 27 Februari 2015

Selamat Ulang Tahun

Halo, Salsa temanku yang paling konyol.

Sudah lama tidak bertemu, mengobrol, dan tertawa bersamamu. Aku merindukanmu, Sal. Aku rindu guyonanmu yang kadang tidak masuk di akal. Aku rindu tanggapan konyolmu tentang orang-orang yang diam-diam kita amati dari tempat kita nongkrong sambil mengobrol santai. Aku rindu ketika bertemu denganmu untuk mendengar guyonanmu sekaligus menjadi pendingin kepala setelah beberapa jam berkutat dengan latihan soal UN di kelas hanya tinggal keluar kelas dan mendapatimu sedang ngemil di depan kelas sebelah. Kamu selalu menemukan cara agar teman-temanmu tertawa, Sal.

Oiya, selamat ulang tahun, Salsa. 20 tahun ya Sal? Bagaimana perasaanmu menginjak umur ini? Apa kamu grogi? Sebab kata orang-orang mulai umur 20 tahun semua yang kita lakukan sudah semakin serius. Katanya keputusan-keputusan yang kita ambil akan sangat berpengaruh ke depannya. Sebentar lagi aku juga 20 tahun, Sal. Dan aku grogi. Makanya aku bertanya.

Hari ini, di hari ulang tahunmu, aku tidak bisa memberi apapun selain surat ini dan doa-doa baik untukmu. Semoga sehat selalu, umurnya berkah, segala urusan lancar, tidak pernah keteteran membagi waktu antara kuliah dan event, dan selalu bahagia. Perihal jodoh, semoga dipertemukan orang yang tepat di waktu yang tepat, dia yang akan membahagiakanmu sedang menujumu dan kamu menujunya.Siapkan dirimu, pantaskan dirimu, Sal.                                        

Jadi, kapan kita bertemu?

Kamis, 26 Februari 2015

Dari Wanita yang Sedang Patah Hati

Kepada @putrideviURF

Aku menyukai salah satu suratmu yang berjudul "Kepada Wanita yang Sedang Patah Hati" (maaf belum bisa mencantumkan linknya dalam surat ini). Aku merasa surat itu memang ditujukan padaku. Aku menemukan suratmu saat aku sedang patah hati dan saat merasa tidak ada lagi yang mau mendengarkanku.

Aku punya cara sendiri untuk mengobati patah hati ini. Seperti apa yang kamu katakan di suratmu, masing-masing punya caranya sendiri mengahadapi patah hati. But, the others just don't get it. Semua menyalahkan, semua memarahi, lelah untuk mendukung, lelah untuk mendengarkan. Sampai di suatu saat aku merasa, terserah apa yang mereka katakan, karena ini treatment yang aku butuhkan.

Saat ini, aku sudah lebih bisa mengendalikan perasaanku terhadap kenangan masa lalu. Aku sudah di tahap sadar bahwa hidup ini memang harus berlanjut dengan atau tanpanya. Aku sudah di tahap sadar bahwa aku pantas untuk bahagia.

Terimakasih. Suratmu itu membuatku lebih bisa melangkah untuk mengembalikan kebahagianku yang sempat tertutup kesedihan beberapa waktu lalu. Ini bagian yang paling aku suka dari suratmu.....
"Bersabarlah dan terus melangkah karena di setiap gigil kala hujan pasti ada pelangi yang menghangatkan, karena disetiap sakit yg kita rasakan dalam kehidupan selalu ada pembelajaran, beranjaklah dan bercerminlah tatap wajahmu perlahan ukir senyuman termanismu."

Salam kenal, @anditapr