Minggu, 15 Oktober 2017

Oktober: Ruang Tengah

Kita biasa menghabiskan malam seperti ini. Bersama di ruang tengah, menonton tv sambil menyandarkan lelah setelah seharian bekerja. Sama sama meluruskan kaki, dengan aku yang menyandarkan kepalaku di bahumu dan kamu mengelusnya. Kamu adalah rumah ternyaman.

Kita biasa menikmati akhir pekan seperti ini. Bersama di ruang tengah dengan kamu yang nyaman rebahan di pangkuanku. Sama-sama serius, menekuni buku bacaan masing-masing. Bersama dalam diam.

Kita biasa menikmati hujan seperti ini. Bersama di ruang tengah dengan aku yang nyaman di pelukanmu. Menikmati air Tuhan turun di luar jendela kaca besar di depan kita. Memperhatikan bulir-bulir nya turun dengan hebatnya menghasilkan alunan merdu. Hujan menjadi lebih syahdu karena adanya kamu.

Kita biasa seperti ini. Mencintai dengan sederhana. Bahagia dengan hal hal sederhana. Bagiku, selama itu bersama kamu, bagaimana pun aku bahagia. Bagaimana dengan kamu? Apakah sama? Semoga begitu.

Dan sayang, beginilah aku menyatakan padamu aku rindu.

Selasa, 29 Agustus 2017

Ini Kekasihmu

Sekarang kamu tau seperti apa aku.
Bukan tipe yang manis sepanjang waktu.
Cukup pemalu bahkan hanya untuk mengungkapkan rasa sesering kamu.

Untuk cintamu yang sebesar semesta, terimakasih ku sampaikan dengan sekian banyak doa untukmu mengiringi.
Kata orang, obatnya rindu adalah temu, sedangkan doa adalah peredanya untuk sementara.

Selamat ulang tahun.
Ucapannya tidak tepat waktu, tapi semoga kamu selalu tau.

Rasa-rasa yang tidak bisa setiap saat diungkapkan.
Rindu-rindu yang tidak semua bisa dikatakan.
Doa-doa yang selalu tertuju padamu.

Kamu spesial bukan hanya setahun sekali di tanggal kelahiranmu.
Bagiku, sepanjang waktu.
Dua belas bulan setahun.
Empat minggu sebulan.
Tujuh hari seminggu.
Dua puluh empat jam sehari.
Enam puluh menit sejam.
Enam puluh detik semenit.
Sepanjang waktu.

Angka yang baru.
Tidak akan lebih mudah.
Tapi akan lebih ringan, janjiku untuk selalu mendampingi.

Rabu, 02 Agustus 2017

Agustus: Sampai Jadi Debu*

Aku berdoa agar kita adalah selamanya
Tapi akan selama apa selamanya itu?

Karena kamu adalah yang aku bayangkan ada menemani hari demi hari sampai aku tua nanti.
Sampai kita tua nanti.
Sampai tidak mudah lagi bagimu mengingat segala hal. Aku akan mengingat semuanya untukmu.
Sampai rambut kita memutih dan kulit kita menua bersama waktu. Ah tidak, kamu akan selalu tampan bagiku walau bagaimanapun waktu mengubah segalanya.
Sampai tidak banyak yang bisa kita kerjakan dengan tubuh yang tidak lagi muda. Kita akan banyak menghabiskan waktu bersama di rumah saja. Aku tidak keberatan.
Sampai semua anak-anak kita sudah dewasa dan punya kehidupannya maisng-masing. Rumah akan sangat sepi tanpa mereka. Kita akan berbagi rasa sepi itu bersama. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri.

Sampai suatu hari kita benar-benar lelah, dan sudah waktunya meninggalkan dunia ini. Bisakah kita beristrahat bersama? Karena tidak bisa kubayangkan bagaimana aku menjalani hari tanpa kamu. Dan aku tidak bisa membiarkan kamu yang menemani aku selama itu merasakan hari tanpaku di sisimu.
Kita akan diistirahatkan bersisian.
Sampai jadi debu kita terus bersama.

Tuhan, bolehkah untuk kita selamanya tanpa batas waktu?








*terinspirasi Banda Neira- Sampai Jadi Debu.

Sabtu, 22 Juli 2017

Juli: Yang Aku Tidak Suka

Aku tidak suka wajah yang seperti itu. Murung, senyumnya hilang entah kemana. Mungkin aku tidak bisa mengerti seberapa besar badai di pikiranmu, yang aku tau pasti badai itu bisa membuatmu tidak makan juga tidak bersemangat seharian. Aku tidak suka. Berani-beraninya dia mengambil senyum yang paling favoritku.

Aku tau aku tidak punya kekuatan super. Kekuatan super yang bisa mengusir badai di pikiranmu itu lalu mengembalikan senyummu. Ah iya, andai saja aku punya mungkin akan lebih mudah setiap kali badai itu berani datang lagi dan lagi. 

Aku tidak suka wajah murung itu. Tapi aku hanya diam, lalu memelukmu seerat-eratnya. Berharap dengan begitu badai itu perlahan akan hilang, lalu diganti dengan langit cerah. Iya mungkin aku tidak akan pernah mengerti apa yang mengusikmu, kamu juga tidak mau membaginya. Iya aku mengerti. Tapi ijinkan aku tetap begini, oke? Karena hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku ingin kamu selalu ingat, kamu tidak pernah sendiri. Seberapa besar badai di pikiranmu, atau seberapa berat beban hidupmu yang sedang kamu hadapi, aku mengerti kalau kamu memang tidak mau membaginya denganku. Tapi ijinkan aku tetap di sini.

Aku sangat tidak suka wajah murung itu. Jadi secepatnya kembali ya, tampan.

Senin, 12 Juni 2017

Juni

Hampir 365 hari sejak pertama mengenalmu dan tidak ada satu hari pun aku menyesal telah dipertemukan tanpa pertemuan denganmu.

Suatu hari nanti,

untuk keberanianmu menyapaku terlebih dahulu,
untuk usahamu mengenalku,
untuk kerelaanmu menerimaku apa adanya,
untuk keyakinanmu mempertahankanku,
untuk kesabaranmu menghadapiku,
untuk tekadmu membahagiakanku selalu,
untuk dukunganmu yang tanpa henti,
untuk hatimu yang lapang memaafkan,
untuk kesetiaanmu tanpa aku meminta,
untuk semua waktu yang kamu sempatkan di sela kesibukanmu,
untuk ego yang kamu tahan supaya tidak memperlama pertengkaran,
untuk keseriusanmu pada hubungan ini,

akan kuhadiahkan terimakasih ku dalam sebuah dekap yang erat.

Kamis, 01 Juni 2017

Kebodohan yang Kekal

Kami adalah sesuatu yang dipertemukan tanpa pertemuan
Mengikat satu sama lain dengan perjanjian yang terhenti pada kata amin
Dia adalah satu satunya yang menjebak aku dalam ruangan yang kosong akal sehat
Yang sehat tanpa akal
Yang kekal tanpa logika
Yang terus bergerak dan bertumbuh atas nama cinta
Jangan semata mata bilang aku bodoh
Ya tapi anggap lah aku memang bodoh
Ketika asa dan rasa tak mampu dibinasakan logika
Tapi ternyata kebodohan bukannya mudah untuk dilawan

Aku harap mampu menarik jarak
Tapi jarak adalah yang paling keras kepala
Kalau begitu aku harap dapat bersahabat baik dengan waktu

Tak semua ada dalam rencana besarku
Lalu sedikit demi sedikit mulai kutoleransi
Sampai akhirnya kuharap bisa punya dia saja




A post by: Rama

Senin, 22 Mei 2017

Mei: Tentang Jarak dan Rasa

Kita kembali berjarak. Kali ini lebih jauh, sekitar 1200 km, tapi kamu terasa lebih dekat.

Mungkin bagi orang-orang, jarak adalah sesuatu yang menyebalkan. Dia membuat mereka yang awalnya bisa memeluk kapan saja menjadi harus menahannya sampai bertemu lagi. Pada awalnya dia akan memberi sebongkah besar keyakinan, tapi dia juga yang membuat kita menghancurkannya dengan pikiran kita sendiri.

Dia memberikan insecurities. Dia memberi kesempatan yang besar untuk memikirkan apakah kita akan baik-baik saja dengan ini. Apalagi terhadapmu, sepertinya dia sering usil, membuatmu berpikir yang tidak -tidak.

Dia memberikan ketakutan-ketakutan yang sebenarnya tidak perlu dicemaskan. Mungkin itu adalah senjatanya, untuk menghancurkan kepercayaan kita akan harapan-harapan yang ada. Benar katamu, kita cuma harus menang.

Tapi sebentar, dia juga memberi ruang yang besar untuk merindukan seseorang yang jauh. Ruang yang sangat besar. Sampai-sampai kita akan lelah menyusurinya ketika sudah waktunya bertemu nanti. Tapi tenang saja, denganmu aku mau tersesat menyusurinya, denganmu aku tidak akan lelah menyusuri ruang besar itu. Ruang besar milikku dan milikmu.

Kepadaku, dia menunjukkan seberapa besar kamu menyayangiku, seberapa besar aku berpengaruh di hidupmu, seberapa penting aku untukmu, seberapa sering kamu merindukanku. Jadi aku tak masalah berteman dengannya, bahkan aku mulai akrab dengannya.

Karena rasa bukan tentang jarak. Tapi tentang (si)apa yang ingin dipertahankan bagaimana pun keadaannya dan seberapa jauh pun jaraknya. Dan bagiku itu adalah kamu.